« March 2008 | Main | May 2008 »

April 28, 2008

Bukubukuku

Aku senang sekali membaca. Membaca apa saja. Sejak kecil papaku sudah menanamkan kepada anak-anaknya agar suka membaca. Aku ingat sekali buku yang paling suka aku baca adalah Khazanah Pengetahuan untuk Anak-anak. Semacam ensiklopedia, penuh gambar. Pertama aku suka melihat gambarnya, lalu mulai membaca. Ada banyak serialnya, ada Matematika, Angkutan, Alam Semesta. Sebagian buku-buku itu sudah hampir rusak karena sering dibuka dan dibaca oleh aku dan adik-adikku.

Sewaktu di SD, aku mulai suka membaca buku cerita. Mulai dari komik, cerpen di koran dan majalah, atau buku cerita seperti Lima Sekawan. Pernah aku dapat lungsuran buku cerita dan komik dari tanteku. Karena bangga punya banyak buku, aku promosikan ke teman-temanku. Hasilnya banyak buku-buku itu yang dipinjam dan tidak kembali lagi.

Waktu SMP, aku lebih banyak meminjam daripada membeli. Maklum uang saku-ku waktu itu hanya lima ribu rupiah untuk sebulan..hehe. Tidak jarang aku harus membaca semalaman karena Cuma bisa minjam sehari. Di SMA, karena di asrama, meminjamnya jadi fleksibel..hanya harus antri. Satu buku bisa kembali ke pemiliknya 3 bulan lagi karena digilir mulai dari asrama puteri sampai ke asrama putera. Itupun sudah lecek, ada noda minyak, kertasnya terlipat-lipat. Ga bisa marah, karena ga ahu siapa pelakunya.

Pas kuliah, aku akhirnya bisa membeli buku. Ga sering, hanya kalau ada uang lebih saja. Kebanyakan yang aku beli adalah novel, buku insiprasional, atau kumpulan-kumpulan kisah. Tapi kebiasaan meminjam tetap dilanjutkan. Selain minjam di rental yang banyak bertebaran di Jogja, ada juga taman baca di sana. Kebetulan sepupuku ada yang tinggal di asrama, jadi aku bisa ikutan dalam daftar peminjam asrama atas nama sepupuku itu. Pas sepupuku tamat dan keluar dari asrama, kembali aku dapat lungsuran buku-buku dan majalah. Dan kembali lagi, buku-buku itu berpindah tangan tanpa jejak. Mungkin karena bukan aku yang beli jadi tidak bertahan lama di aku (atau tidak aku pertahankan...entahlah). Setelah lulus kuliah, Buku-bukuku sebagian aku tinggalkan di Jogja karena tidak bisa aku bawa ke Bogor.

Di Bogor aku tetap membeli buku. Karena sudah berpenghasilan sendiri, aku menetapkan membeli minimal satu buku perbulan. Aku sampai kebingungan mengatur buku-buku diatas meja di kamarku. Kebiasaanku kalau membeli buku adalah menyampuli buku dengan plastik pembungkus. Rasanya aneh saja jika buku aku baca dalam keadaan telanjang. Bukuku belum boleh dibaca kalau belum ada sampul plastiknya. Setelah disampul, aku menulis tempat dan tanggal pembelian di pojok kanan atas halaman pertama buku itu, dan kutanda tangani. Biar kerasa privasinya...hehe.

Karena berpengalaman dalam kehilangan buku akibat dipinjam, aku sangat berhati-hati meminjamkan bukuku. Aku nyaris tidak pernah menawarkan bukuku lagi untuk dipinjam. Aku baru meminjamkan bukuku kalau orangnya sudah aku kenal dengan baik. Minimal aku tahu dimana bisa mencarinya kalau bukuku tidak dikembalikan setelah beberapa waktu lamanya. Hehe..pelit?? Ga masalah.. asal buku-bukuku tidak hilang

Selain buku tercetak, aku juga mengoleksi buku-buku dalam bentuk elektronik. Biasanya buku-buku mahal karena tidak mampu aku beli aku berusaha cari versi elektroniknya. Apalagi di Bogor nyaris tidak ada tempat rental buku. Biasanya dapat ebook dari hasil surfing internet atau tukaran ama teman-teman.

Rakbuku

Bagiku membeli buku adalah suatu investasi. Karena tidak ada kata rugi dalam membeli buku. Apalagi sekarang, aku dapat subsidi “uang buku” dari Jojo, katanya untuk mengobati kesepian..hehe.. Impianku suatu saat aku bisa punya perpustakaan pribadi. Minimal sebuah lemari besar yang berisi buku-buku dan literatur lainnya.

gambar diambil di sini

                            

April 10, 2008

I miss you…and it hurts me

I miss you…
And it hurts me…
Because everything I see, I hear and I feel remind me of you

The plate and glass that you used to eat and drink by
The sound of your ex-motorcycle
The cold when rainy start over

And when I miss you
Words are not enough to say
I want to hug you
I want to lean in your arms
Then I start feeling blue and go to cry
Cause it hurts me so
When I miss you

April 06, 2008

Dewasa adalah tanggung jawab

Malam minggu aku menonton salah satu episode dari serial Grey’s Anatomy di sebuah stasiun TV swasta. Dr. Grey membuka episode itu dengan mengatakan seperti ini :
Remember when you were a kid and your biggest worry was like... if you'd get a bike for your birthday or if you'd get to eat cookies for breakfast. Being an adult: TOTALLY overrated. I mean seriously, don't be fooled by the hot shoes and great sex and no parents anywhere telling you what to do. Being an adult is responsibility. Responsibility really does suck. Really, REALLY sucks. Adults have to be places and do things and earn a living and pay the rent. And if you're training to be a surgeon, holding a human heart in your hands... Hello! Talk about responsibility! Kinda makes bikes and cookies look really really good, doesn't it? The scariest part about responsibility... When you skrew up and let it slip right through your fingers. Responsibility. It really does suck. Unfortunately once you get past the age of braces and training bras, responsibility doesn't go away. It can't be avoided. Either someone makes us face it or we suffer the consequences. And still, adulthood has its perks. I mean the shoes, the sex, the no parents anywhere telling you what to do... That's pretty damn good.”.

Wow...Apakah tanggung jawab benar-benar menyebalkan? Sepertinya memang iya. Tidak jarang orang akhirnya lari dari tanggung jawab setelah menyerah dengan tanggung jawab itu. Padahal orang yang “lari” itu telah mengaku sebagai orang dewasa.

Aku sendiri merasakan tanggung jawab itu menyebalkan. Tanggung jawab lahir dari pilihan-pilihan yang telah aku pilih. Pada saat tanggung jawab terasa menyebalkan, aku tergoda untuk berpikir kembali betapa cerobohnya aku memilih pilihan ini. Seandainya dulu aku mengambil pilihan lainnya mungkin tidak seperti ini. Ya...pada saat tanggung jawab terasa menyebalkan, yang lahir kemudian adalah perasaan menyesal.

Pernah suatu waktu aku berpikir, mungkin aku sebenarnya tidak cocok menjadi seorang peneliti. Aku orang yang ceroboh, sering ingin bertindak cepat seakan waktuku sangat sedikit. Apa yang ada di pikiranku sering aku keluarkan dengan mentah...dan setelah itu aku baru berpikir akan dampak dari keputusanku. Dan sudah beberapa kali aku “termakan” oleh ucapanku sendiri (walaupun aku menenangkan diriku kembali dengan mengatakan hidup itu penuh perubahan).

Dan di saat itu juga akan terlintas pertanyaan, seperti yang terlintas di benak Dr. Grey di serial tersebut : “Kapan kita akan berhenti dewasa? ”. Mungkin maksudnya adalah pada saat kita berhenti menjadi dewasa, maka tanggung jawab yang menyebalkan itu juga akan berhenti. Tapi sayangnya, kedewasaan tidak akan berhenti sampai ajal menemui kita.

Sekarang pilihannya adalah menjalani kedewasaan dan tanggung jawabnya. Kemudian mencoba membuka mata (hati) lebih lebar, dan melihat kedewasaan itu dari sisi yang berbeda. Mungkin tanggung jawab akan terlihat menyenangkan.

Responsibility, it really does suck. Unfortunately, once you get past the age of braces and training bras, responsibility doesn't go away. It can't be avoided. Either someone makes us face it or we suffer the consequences. And still adulthood has it perks. I mean the shoes, the sex, the no parents anywhere telling you what to do. That's, pretty damn good .

Quotes are taken from Grey's Anatomy TV series

My Photo
Powered by Friendster Blogs

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

rame-rame

  • go green indonesia!
  • Cara Membuat Blog
  • Page copy protected against web site content infringement by Copyscape